Apa Hubungan Bersih dengan Iman? Saat menonton film “Sang Pencerah”, ada dialog yang menggambarkan
Islam sebagai agama yang terbelakang, anti perubahan, dan kotor. Ketika KH
Ahmad Dahlan hendak mengajar di sekolah elit yang dikelola Belanda, seorang
siswa klimis berbisik kepada temannya,“Biasanya, kyai itu bau dan
sering tidak memakai sandal”. Dalam bahasa sederhana, pandangan non-Muslim
Barat saat itu menempatkan Islam sebagai agama kotor. Namun, digambarkan
di sana, dengan kerapian dan kebersihannya, KH.Ahmad Dahlan merubah pandangan 'miring' itu.Di dalam sebuah hadits disebutkan,"Kebersihan itubagian
dari iman". Namun, realitas membuktikan, bahwa sering kita jumpai
lingkungan yang kotor di sekitar lembaga pendidikan Islam kita. Ini artinya,
hadits tersebut belum menjadi aktus yang dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari. Dan, ironisnya, lingkungan yang bersig justru sering kita
temui di negara-negara Barat. Lihat saja kota-kota di Barat -seperti Chicago,
Amsterdam, New Zealand, dll-, tata kotanya rapi dan kebersihannya terjamin.
Sebab, di sana, kebersihan menjadi perkara prioritas yang diatur oleh undang-undang
kebersihan secara khusus. Padahal, jauh sebelum undang-undang di Barat itu
dibuat dan disahkan, umat Islam telah memiliki norma dan undang-undang
sakralnya –berupa hadist Nabi- yang mewajibkan kita untuk menjaga kebersihan.
Dalam fiqh Islam, kebersihan juga menjadi syarat mendasar bagi seorang Muslim
yang hendak melaksanakan ritual agama. Bahkan, dalam hadist itu, kebersihan
dikaitkan dengan keimanan; kebersihan bagian dari iman. Sederhanyanya,
orang yang tidak menjaga kebersihan, keimanannya belum sempurna. Sebab, di
hadist lain dijelaskan bahwa "Allah itu indah dan Dia mencintai
keindahan".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar